-->

DILEMA LEMBAGA MAHASISWA


Robby Charron
Mahasiswa merupakan interpretasi dari generasi muda yang mampu memberikan perubahan yang nyata bagi kehidupan bangsa ini. Hal ini telah dibuktikan dengan adanya pergerakan islam pertama di timur tengah yang dipelopori oleh mahasiswa, yang salah satu pendirinya merupakan seorang mahasiswa yang berdedikasi sebagai seorang da’i. ustadz Hasan Al – Bana merupakan salah seorang mahasiswa yang telah membuktikan pergerakannya, metode dakwahnya yang universal, yang menjadi referensi bagi pergerakan mahasiswa dalam berdakwah di lingkungan kampus masing masing.

Begitu pula dengan pendapat masyarakat yang menjadikan mahasiswa sebagai kaum intelektual yang mempunyai pemikiran matang, dan pergerakan yang cantik untuk mengusung aspirasi mereka, agar terciptanya Negara yang mensejahterakan rakyatnya.

Soekarno pernah mengatakan “ berilah aku seratus orang tua, niscaya aku akan menggoncangkan Negara, tapi berilah aku sepuluh orang pemuda, niscaya akan ku goncangakan dunia”. Betapa besarnya kekuatan pemuda untuk merubah keadaan dunia ini, apalagi mahasiswayang dibekali dengan kemampuan intelaktualitas, kematangan berfikir, dan kecakapan dalam bertindak.

Berbagai lembaga mahasiswadidirikan untuk menyalurkan potensi dari mahasiswa itu sendiri. Di tingkat universitas berupa Badan Eksekutif Mahasiswa, dewan legislatif mahasiswa,beserta unit unit kegiatan Mahasiswa. Kesemuanya merupakan wadah yang saling bersinergi untuk menyalurkan potensi mahasiswa.

Namun kondisi lembaga mahasiswa saat ini perlu menjadi perhatian bagi segenap mahasiswa. Kemurnian ideologi tidak lagi dapat dipertahankan, bercampur dengan kepentingan kepentingan dari pihak pihak lain. Sehingga kekuatan mahasiswa tidak lagi setangguh dahulu. Dalam hal ini penulis akan menilik kemunduran lembaga mahasiswa dari berbagai segi, diantaranya mentalitas dari komponen yang ada di dalamnya. Jarang sekali kita melihat seorang mahasiswa yang mempunyai keberanian dalam mempertahankan yang hak, yang ada hanya saling mengikuti dan berlindung di balik tabir ketakutan. Semangat pun tidak muncul dari tiap civitas akademi untuk bahu membahu memberikan perbaikan bagi lingkungan kampus.Bahkan justru mahasiswa yang menjadi bumerang bagi keputusan keputusan yang dihasilkan oleh lembaga lembaga penyalur aspirasi mereka (red : Mahasiswa). Kerikil kerikil ini nantinya akan semakin membesar dan bisa menghalangi kelancaran dari lembaga itu sendiri. Oleh karena itu, hendaknya orang rang yang telibat dalam lembaga mahasiswa dapat menjalin komunikasi yang baik dengan seluruh civitas akdemi dan juga dengan orang orang di luar lingkungankampus.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan oleh lembaga lembaga mahasiswa dewasa ini adalah kedisiplinan dan keteraturan dalam melangkah. Hal yang banyak terjadi di lapangan adalah kurangnya kepercayaan dari civitas akademi kapada lembaga mahasiswa, akibat ketidakdisiplinan dari para personilnya. Terkadang sistematika dalam surat menyurat pun harus diperhatikan, walaupun jika dilihat adalah sesuatu hal yang tidak begitu urgen, namun hal tersebut bisa menjadi penilaian dari pihak civitas akademi bagi kinerja lembaga yang nantinya akan membuahkan kepercayaan ataupun hambatan dari pihak luar. Begitu pula dengan komitmen terhadap waktu. Hal tersebut bisa langsung mencerminkan kematangan dari tiap personil di dalamnya. Personil personil yang tidak mampu konsisten terhadap waktu menyebabkan keburukan bagi lembaga tersebut. Karena orang orang akan menilai lembaga dari personil yang ada di dalamnya.

Ketika setiap personil dari sebuah lembaga telah mampu berskap teratur dan disiplin, maka lembaga tersebut akan menjadi lembaga yang profesional di mata civitas akademi dan hal ini merupakan nilai positif bagi lembaga tersebut.

Poin berikutnya yang perlu di perhatikan adalah integritas kita terhadap lembaga. Integritas yang tinggi akan membuahkan sebuah kesungguhan untuk menjadikan lemaga kita menjadi tonggak penuai kebaikan di kampus kita. Dukungan penuh dari personil merupakan kekuatan yang besar bagi kemajuan lembaga. Ketika integritas mulai melemah, maka kita harus kembali meluruskan niat dan pondasi awal yang dahulu telah dibangun. Dengan niat yang ikhlas lillahi ta’ala, InsyaAllah dapat memberikan kita suatu pemikiran yang jernih dalam bertindak dan semangat dalam melangkah serta sebuah totalitas dalam bekerja untuk mencapai tujuan akhir.

Poin lain yang tidak kalah pentingnya adalah mensinergikan ideologi dari tiap personil yang ada di lembaga tersebut. Sejatinya kampus merupakan tempat yang sangat subur bagi berkembangnya setiap ideologi.Ideology – ideology tersebut memang tidak dapat disatukan, namun kesemuanya dapat disinergikan untuk mencapai suatu tujuan. Hal ini merupakan kecakapan dari tiap personil lembaga untuk merangkul orang orang walaupun dengan ideology yang berbeda. Sebagaimana dakwah Rasulullah SAW. Ketika kepemimpinan beliau, tidak ada seorang nasrani atau yahudi atau orang orang di luar islam yang merasa tedzalimi dengan pemerintahan beliau. Hal ini karena kecakapan beliau untuk merangkul tiap elemen masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang madani. Seharusnya kita sebagai kaum intelektual juga harus memiliki kebesaran hati untukbergerak bersama walaupun dengan orang orang yang mempunyai ideology berbeda.

Poin terakhir yang harus menjadi catatan bagi setiap lembaga mahasiswa adalah bahwa mereka bukanlah sekedar sebuah lembaga yang mempunyai tujuan, program kerja, ataupun target target yang harus dipenuhi, namun seyogyanya mereka merupakan wadah penampung aspirasi dari seluruh mahasiswa yang ada di lingkungan kampus. Jangan sampai civitas akademi tidak lagi merasakan bahwa mereka ternyata mempunyai sebuah lembaga baik tingkat universitas, fakultas, bahkan jurusan.Hal ini merupakan sebuah kerja besar bagi perubahan besar dikampus kita ini. InsyaAllah.

Catatan yang paling penting adalah hal ini tidak akan dapat terlaksana jika personil personil yang ada pada lembaga tersebut tidak mempunyai kekuatan ruhiyah, mentalitas yang kuat serta kemampuan yang cepat dalam menganalisa dan mensolver setiap masalah yang ada di lingkungan kampus kita.

Oleh: Robby Charon