-->

Polaritas Idealis dan Integritas Mahasiswa diambang Pragmatisme

OLEH : SUHERMAN AHMAD

“Panjang Umur Pergerakan!!! Hidup Mahasiswa!!!” sorakan itu tidak asing lagi bagi setiap lapisan masyarakat dimasa ini. Mahasiswa yang memegang visi, misi dan tujuan yang ideal dalam membangun dan membentuk karakternya sebagai  seorang manusia yang menggunakan akal pikiran dan kaidah sebagai landasan dalam bertindak. Akan tetapi, tidak semua mahasiswa seidealis itu. Setidaknya  masih ada diantara mereka yang masih memegang teguh komitmen dan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa. Sehingga kedepennya akan terbentuk sosok pemimpin yang memiliki integritas untuk meneruskan cita-cita negeri ini.
Pergerakan pada masa orde baru yang frontal dan berani menjadi cerminan kekuatan mahasiswa. Masa dimana semua orang hanya bisa diam dan mengangguk dengan kebijakan pemerintah. Hak warga negara untuk berpendapat, kesejahteraan dan keadilan di rampas oleh rizim yang secara otoriter memerintah. Namun, mahasiswa yang masih dapat berfikir secara jernih, secara sadar melakukan pergerakan untuk mengambil kembali hak warga negara yang telah dirampas. Mereka tidak diam, diam terpaku untuk mengalah pada keadaan yang genting dan mereka tidak sekedar mengangguk menyetujui kebijakan pemerintah yang semena-mena. Mereka terus berjuang untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang didambakan.
Bukan hal mudah untuk memperjuangkan nasib negeri ini. Tidak cukup dengan tenaga masyarakat, butuh perjuangan mahasiswa, mahasiswa yang tanpa perpecahan dan perselisihan. Disinilah kepemimpinan mahasiswa dilatih, dikembangkan dan dipraktekkan. Kampus yang menjadi habitat mahasiswa sebagai laboratorium untuk mengembangkan dan mempraktekkan soft skill yang tidak didapat dibangku kuliah dan itulah fungsi organisasi sebagai medianya. Kepemimpinan yang selaras dengan keilmuan yang dimiliki oleh masing-masing mahasiswa menjadi modal awal untuk menjawab tantangan yang ada. Disinilah fungsi manajemen kepemimpinan untuk mahasiswa dalam mewujudkan masyarakat yang madani.
Namun paradigma yang beredar dimahasiswa saat ini adalah “LULUS CEPAT, KEMUDIAN KERJA”. Itulah yang membuat memudarnya peran dan fungsi yang melekat pada mahasiswa saat ini. Tri dharma perguruan tinggi semakin lama semakin terlupakan. Bukan hal yang mengherankan, faktor ekonomi dan sistem pendidikanlah yang memaksa setiap mahasiswa membenarkan paradigma itu. Terpuruknya perekonomian Indonesia dan peraturan-peraturan pendidikan yang semakin mengekang membuat dan memaksa mahasiswa harus berubah orientasi.
Dari paradigma diatas mengakibatkan mahasiswa kekinian semakin berorientasi pada pragmatis ketimbang idealis yang terpola dan lebih menjuru kepada individualisme. Hal tersebut mengakibatkan terpolanya perilaku-perilaku yang menyimpang dan dengan mudah dibenarkan oleh mahasiswa. Fokus terhadap akademik dan IPK tinggi menjadi bahan persaingan dalam hal akademik. Sehingga tidak heran pemikiran mahasiswa mengarah kepada teori ekonomi klasik “mengorbankan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya”. Hasilnya mahasiswa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan IPK tinggi dan beradu gengsi dengan mahasisw setingkatnya. Lebih ironinya lagi, sering kali kita melihat aktivis yang menyorakkan kritik pedas kepada koruptor dan kemudian mereka malah sering titip absen dan menyontek saat ujian. Inilah fenomena yang membuat malu dan jengkel yang menjadi bibit-bibit koruptor kedepannya.
Fenomena lainnya yaitu, semakin kurangnya mahasiswa yang menyeimbangkan masalah akademik dan organisasinya. Mereka yang memilih fokus untuk masalah akademik kadang lupa akan fungsinya untuk mengabdi kepada masyarakat. Sedangkan mereka yang terlalu fokus dengan organisasinya kadang lupa dengan masalah hak dan kewajiban mereka untuk belajar secara formal. Mahasiswa yang study oriented lebih cenderung tidak dapat bekerja dalam tim dan perusahaan saat ini kebanyakan mencari tenaga kerja yang memiliki pengalaman organisasi yang baik. Selain itu, mereka yang organization oriented malah  terjerumus pada NASAKOM (NASIB SATU KOMA), atau dengan kata lain IPK mereka rendah. Perusahaan juga dalam mencari pekerja melihat dari segi Indeks Prestasi Komulatifnya. Itulah pentingnya menyeimbangkan antara Organisasi dan Akademik.
Permasalahan sebenarnya dari bangsa ini adalah krisis integritas, baik dari masyarakat, pemerintah, swasta dan mahasiswa sendiri sebagai stakeholder. Masih jarang orang yang memahami apa arti sebenarnya dari Integritas itu sendiri. Integritas merupakan suatu keadaan yang membuat hati nurani yang berbicara. Karena dengan itu, ketulusan, keikhlasan dan kejujuran yang akan berbicara dengan sendirinya. Dengan demikian, nilai-nilai dan keputusan-keputusan akan muncul dengan sendirinya, ego dan kepentingan kedudukan akan tersingkir dengan sendirinya. Yang terjadi jika mahasiswa tidak dipersiapkan sejak dini adalah, mahasiswa yang berbakat dan memiliki potensi akan dikumpulkan dan dijadikan sebagai alat-alat politik praktis dimasa depan. Mahasiswa akan dengan mudah dikader dan didoktrin untuk mengiyakan perilaku-perilaku menyimpang yang saat ini sering kita saksikan dan kemudian hal itu akan tetap terjadi kedepannya. Seharusnya peran mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control digunakan untuk mengawasi jalannya kebijakan-kebijakan pemerintah. Posisi mahasiswa dalam tatanan masyarakat sangat strategis yang berada pada middle class. Mahasiswa juga diharapkan mengabdikan dirinya pada masyarakat lewat pengaplikasian ilmunya yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama rakyat kecil.
Problematikanya adalah, apakah mahasiswa kekinian masih mampu mengasah idealisme dan integritas mereka untuk membawa perubahan yang lebih baik kedepannya? Jawabannya ada pada diri mahasiswa itu sendiri karena mahasiswalah yang harus membangun jiwa kepemimpinan mereka dan juga mengembangkan potensi yang ada pada mereka. Sehingga kepemimpinan, potensi, idealis dan integritas mereka bisa berjalan beriringan. Karena ide tanpa aksi sama dengan omong kosong dan ide ditambah aksi tapi kurang keikhlasan adalah penyelewengan. Mahasiswalah yang harus merubah paradigmanya sendiri untuk melihat Indonesia yang lebih baik dimasa depan.

Pandangan visioner di atas tidak terlepas dari langkah konkrit yang harus ditempuh mahasiswa dalam mengasah kepemimpinannya untuk terjun dalam realita keterpurukan bangsa ini. Mahasiswa harus memilih jalan sebagai pembuat solusi ketimbang masalah. Kampus sebagai habitat mahasiswa harus menjadi laboratorium kepemimpinan, membentuk kepribadian yang mengintegrasikan potensi intelektual, fisikal, dan spiritual. Dispolarisasi antara akademik dan organisasi harus diwujudkan sebagai langkah strategis. Penguasaan keilmuan harus menjadi pedoman mahasiswa dalam mengorganisasikan pergerakannya. Akhirnya, dimanapun berada mahasiswa harusnya menciptakan sinergisitas dengan semua elemen masyarakat yang ada di atasnya maupun di bawah mereka agar benar-benar menjadi pemimpin yang strategis pada masa kini, terutama masa depan bangsa.