-->

Buletin Edisi 2 - Menyuarakan Suara Rakyat Melalui Tulisan


Buletin Edisi 2 - Klik disini untuk Download

Suara gemuruh demonstran terdengar begitu lantang menyuarakan aspirasi rakyat. Berjalan kaki menuju singgahsana para anggota dewan yang katanya wakil dari rakyat. Berdiri di depan pagar, berteriak agar para anggota
dewan dapat menemui mereka. Namun sayang, ketika aspira yang mereka suarakan tidak mendapat tanggapan, mereka malah bertindak anarkis seperti orang yang tak berpendidikan.

Katanya ingin membantu rakyat namun nyatanya ketika mereka berdemonstrasi mereka malah menyusahkan rakyat. Apakah ini sosok yang akan memimpin bangsa ini kedepannya?

Memperjuangkan hak rakyat adalah kewajiban bagi setiap kaum muda yang berintelektual. Sebagai generasi penerus dari bangsa yang akan membawa bangsa ini menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa-bangsa lain. Seperti yang selalu diperbincangkan dan menjadi harapan seluruh rakyat Indonesia bahwa Indonesia akan mencapai masa keemasannya pada tahun 2045 dan akan sejajar dengan negara-negara maju.

Suatu prediksi sekaligus harapan bagi bangsa Indonesia kedepannya. Semua ini akan terwujud ketika para pemuda saat ini ingin bergerak maju dengan segala pemikiran dan kerja kerasnya. Pemimpin yang hebat bukan hanya pintar berbicara akan tetapi pintar dalam bertindak. Melakukan demonstrasi bukan suatu hal yang dilarang, bahkan pada masa runtuhnya orde baru pun para pemuda melakukan demonstrasi besar-besaran untuk meruntuhkan rezim Soeharto.

Namun zaman telah berubah, sebagai generasi yang berintelektual harus memikirkan terlebih dahulu segala aspek sebelum melakukan demonstrasi. Jangan sampai ingin menyuarakan suara rakyat namun ujung-ujungnya menyusahkan rakyat. Karena banyak diantara para demonstran, ketika berdemonstrasi melakukan penrusakan sarana publik, pembakaran ban di jalan raya bahkan ada yang dengan sengaja memblokir jalan dengan truk yang disita.
 
Pemandangan seperti itu sudah menjadi kebiasaan dikalangan pemuda. Potret yang begitu memilukan dari anak-anak bangsa yang selalu menggunakan kekerasan dalam bertindak tanpa memikirkan setiap resiko yang ditimbulkan. Ketika semua generasi muda seperti ini, yang selalu berlaku anarkis ketika
menyuarakan suara rakyat, maka harapan bangsa di tahun 2045 hanya akan menjadi buah bibir saja.
 
Menyikapi permasalahan diatas, ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menyuarakan suara rakyat, bukan hanya sekedar berdemonstrasi saja. Kegiatan yang dapat dilakukan dan memiliki dampak yang lebih baik adalah melalui tulisan. Seorang pemuda atau pun siapa saja dapat melakukan kritikannya melalui tulisan-tulisan, baik itu melalui surat kabar, buku-buku, puisi ataupun
melalui sosial media.

Namun, dalam membuat suatu tulisan harus tetap memperhatikan aspek etika di dalamnya. Apa bedanya seorang pemuda yang mengkritik melalui tulisan dengan berdemonstrasi secara langsung kalau bukan dari etika dalam penyampaiaannya. Hal lain yang menjadi keuntungan ketika seseorang membuat suatu tulisan, yakni tidak adanya orang yang dirugikan secara fisik, memobilisasi massa lebih banyak karena tulisan dapat dikirim melalui media sosial sehingga masyarakat dan pemerintah lebih cepat dan lebih mudah mengetahui maksud yang ingin disampaikan, tidak mengganggu aktivitas masyarakat baik aktivitas sosial maupun aktivitas ekonomi.

Melalui tulisan pula, kritikan tidak akan pernah mati dan bahkan akan semakin bertambah. Inilah tugas dari generasi muda sekarang yang harus berperan aktif dalam membela dan memperjuangkan hak rakyat. Karena perjuangan tidak selamanya menggunakan fisik, akan tetapi sebagai orang yang terpelajaran harus menggunakan akal pikirannya untuk memecahkan segala permasalahan yang ada di negara ini.
 Sisipan Puisi
WAJAH KEADILAN 
Oleh: Awal  

Seuntai tali harapan, Terlilit di leher kaum bawah
Menjerit lantang, mengharap keadilan 
Menjerit tiada henti, Ketika tali harapan telah putus
Oleh pisau tajam dari mulut sang penguasa
Maka tak apalah
Ketika kaum bawah tak berharap lagi 
Kepada sang penguasa yang telah tumbang oleh materi
Ketika keadilan sudah tidak di tegakkan lagi
Ketika uang telah menjadi raja dari keadilan
Hukum telah menjadi panggung sandiwara 
Oleh penguasa yang telah diperbudak kekuasaan
Inikah wajah keadilan di Negeri ini? 
Wajah yang penuh kebohongan dan kemunafikan
Masih pantaskah kami mengharap keadilan?
Wahai sang penguasa