-->

Buletin Edisi 3 - Memoar Perempuan Revolusioner

Buletin Edisi 3 - Klik disini untuk Download

Kata revolusioner pasti sudah tidak asing lagi terdengar. Ya revolusioner berasal dari kata revolusi yang merupakan perubahan sosial dan kebudayaan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar atau pokok-pokok kehidupan masyarakat.

Revolusi adalah suatu usaha yang dilakukan menuju perubahan, menuju kemaslahatan rakyat yang ditunjang dari
beberapa faktor dan tidak hanya pemimpin melainkan segenap elemen pejeuang ikut andil beserta sasarannya. Di dalam revolusi, perubahan yang terjadi dapat direncanakan atau tanpa direncanakan terlebih dahulu dan dapat dijalankan tanpa kekerasan atau dengan kekerasan.

Kata revolusi mengingatkan kembali dengan peristiwa sebelum merdeka, dimana para pejuang berjuang demi memerdekakan bangsa. Ada satu sosok pejuang perempuan yang ikut andil dalam perjuangan tersebut.

Francisca C. Fanggidaej adalah nama perempuan itu, ia merupakan salah satu tokoh perempuan pejuang. Namun nama Francisca tidak pernah ditulis dalam teks sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia melainkan justru ditulis dalam buku peringatan Konferensi Kalkuta, sebagai tokoh perempuan dari Indonesia yang berpidato untuk memberitakan kepada dunia Internasional tentang perjuangan kemerdekaan Indonesia. Konferensi Kalkuta adalah sebuah konferensi pemuda dari negara-negara terjajah yang sedang memperjuangkan kemerdekaan. Konferensi yang diselenggarakan di India pada 1948 ini adalah embrio dari konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955.

Sebagai tokoh dan pejuang, ia pernah menduduki posisi strategis diberbagai organisasi, seperti Pesindo, kantor Berita Antara, dan DPR GRRI. Setelah peristiwa berdarah 1965, ia terasing dari tanah airnya sendiri dan kini menetap di Belanda.

Awal keterlibatan Francisca dengan perjuangan kemerdekaan ketika ia bergabung dengan sekelompok intelektual muda Maluku di Surabaya. Kelompok pimpinan Gerit Siwabessy dan Dr.Latumeten ini membentuk diskusi-diskusi untuk merumuskan dan memikirkan bentuk perjuangan
untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Selain itu, Francisca juga aktif dalam PRI (Pemuda Republik Indonesia) suatu kelompok revolusi yang benar-benar suatu keajaiban dari tindak kesadaran. Namun, saat Francisca ikut dalam PRI, ia belum mempunyai kesadaran tentang arti kata “proklamasi” dan “merdeka”, namun ia tetap mengikuti peristiwa demi peristiwa menegangkan dan hingga pada akhirnya muncullah benih kesadaran tentang perjuangan.

Revolusi merupakan sebuah perjalanan pulang. Sebuah perjalanan yang dapat membawa kita pulag ke rumah, rumah identitas dimana ada satu lingkungan dan dengan adanya revolusi kita dapat merasakan menjadi orang. Aku berasal dari keluarga yang sederhana, mendapat pendidikan dan
pengajaran yang seadanya, dan dibesarkan dalam suasana kehidupan yang sederhana. Kemudian datang revolusi yang memberi aku kekuatan dan keberanian untuk melompat kesatu lingkungan ke lingkungan yang baru yang sama sekali berbeda dengan lingkungan lamaku. Itulah sedikit pandangan Francisca mengenai revolusi.

Pada awal kemerdekaan, ketika Francisca masih berusia kira-kira berumur duapuluh tahun, ia bergabung dengan pergerakan kaum muda di Surabaya dan dengan antusiasme yang menyala-nyala dan semangat pantang mundur menerjunkan dirinya masuk kedalam pergerakkan revolusi di Surabaya. Ia memiliki semangat juang yang tinggi untuk harus mempertahankan Proklamasi yang telah ada jauh sebelum 10 November 1945.

Semangat, fasih bicara dan ketermukaannya menjadikan Francisca terpilih sebagai wakil Pemuda RI Surabaya untuk mengikuti Kongres Pemuda Indonesia di Yogyakarta, pada 6-10 November 1945. Kongres Yogya itu merupakan Kongres Pemuda Indonesia yang pertama kali diselenggarakan sesudah Indonesia merdeka yang diselenggarakan selama 4-5 hari di Gedung Merdeka.

Setelah selesai Kongres, rombongan dari Surabaya tak bisa pulang karena pertempuran antara rakyat dan tentara sekutu. Pada saat kongres berlangsung, kota Surabaya diserang musuh dengan luar biasa hebatnya. Hujan bom dari udara, disertai dengan hujan tembakan meriam dari laut. Inggris atas nama Sekutu yang diboncengi oleh NICA sebagai negeri pemenang Perang Dunia II memamerkan kejayaannnya di depan Republik Indonesia yang baru lahir (merdeka) beberapa hari.

Mereka bertekad kembali ke Surabaya untuk bertempur. Itulah peristiwa yang kemudia kita
kenal sebagai peristiwa 10 November dan yang kemudian diresmikan oleh Pemerintah RI sebagai Hari Pahlawan.

Peristiwa 10 November 1945, itulah ikrar Sumpah Pemuda yang kedua sesudah sumpah 28 Oktober 1928. Jika dalam sumpah pemuda pertama mereka berikrar tentang persatuan, sumpah pemuda kedua ini mereka berikrar tentang kebnagkitan bersama untuk mewujudkan dan membela sumpah persatuan itu yaitu persatuan Nasional. Ikrar yang pertama ikrar persatuan untuk membentuk Indonesia yang satu, ikrar kedua ikrar persatuan untuk membela dan mempertahankan Indonesia yang satu itu juga.

Setelah pertempuran Surabaya, Francisca aktif dalam Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (BKPRI) yang dipimpin oleh Sumarsono. Karena kefasihan berbahasa Belanda dan Inggris menjadikan ia menyuarakan semangat Kemerdekaan melalui Radio Gelora Pemuda di Madiun.

Disamping itu, melalui Radio Gelora, Francisca mengajar anggota bala tentara Belanda dan Inggris tentang Kemerdekaan dan Kolonialisme. Dengan aktif di organisasi, mengantarnya bertemu dengan Sukarno alias Karno, yang merupakan pimpinan bagian penerangan Pesindo dan BKPRI, yang dinikahinya pada 30 Juni 1948. Kedudukan BKPRI dan Pesindo diletakkan di Madium karena Kota
Madium cukup jauh dari Surabaya, kota pusat pendudukan musuh untuk Jawa Timur. Serta kota Madium tidak terlalu jauh dari kota Yogyakarta, sebagai pusat pemerintahan Republik.

Namun, pada sejarah selanjutnya khususnya sejarah PKI telah memperlihatkan Madium pada pusat
pertahanan dan perlawanan PKI/FDR ketika mengalami teror putih kedua. Madium dipilih lebih banyak atas dasar pertimbangan siasat perang dalam menghadapi Belanda sehingga muncullah konsekuensi logis yang mengatakan bahwa pemikiran secara militer dikalangan pimpinan partai, dalam hal ini PKI/FDR, pada tahun-tahun pertama riwayat Republik memang mendapat tempat agak besar. Strategi militer bisa dibilang menjadi hal pokok ketika itu. tapi hanya sepanjang tahun-tahun pertama saja, atau sekitar tahun 45’-49’.

Karena itulah PKI/FDR pada saat itumenjadi tidak bisa berjalan dengan garis politik Sjahrir yang cenderung melihat perundingan sebagai pertimbangan pertama dan utama, menuju ke kemerdekaan sebagai tujuan akhir cita-cita proklamasi. Maka, PKI/FDR pun lalu menjadi sangat peka terhadap “Persatuan Perjuangan”.

Pada tahun 1947, Francisca diutus untuk melakukan safari  Revolusi Pemuda ke berbagai negeri di Eropa dan menghadiri Konferensi Pemuda Asia  Tenggara atau Konferensi Kalkuta di India. Di sana ia bertugas membuka mata dunia tentang Revolusi Pemuda Indonesia da mencari dukungan dunia untuk berseru “Stop the war!”. Francisca berada di India sekitar tiga bulan, dari Desember 1947- Maret 1948, ketika perjanjian Rencille mencapai kesepakatan. Dalam satu kesempatan berpidato di rapat umum di Kalkuta, Francisca yang diminta untuk menjadi urtusaan dan pembicara satu-satunya dari Indonesia yang menyuarakan “Perjanjian Renville merupakan kemunduran bagi perjuangan bangsa-bangsa untuk meraih kemerdekaan, namun pemuda Indonesia menolaknya dan akan melakukan perlawanan.”

Sebagai seorang aktivis, Francisca juga mengalami masa-masa sulit. Ini terjadi sebelum peristiwa Madium, tepatnya tanggal 14 November 1948, suaminya Mas Karno atau biasa sisapa Bung Karno diculik dan akhirnya tewas ditembak mati.

Ia sendiri ditangkap pada 18 November 1948 dan dipenjara dalam keadaan hamil. Ia dituduh mendapat tugas membawa blue print Peristiwa Madium dari Kongres Partai Komunis Sedunia di Kalkuta. Padahal, Francisca tidak tahu sama sekali bahwa ketika itu Partai Komunis India sedang melangsungkan Kongres. Ia baru bebas pada 19 Desember 1948 ketika terjadi agresi II setelah Belanda melanggar Perjanjian Renville.

Karier politik Francisca perlahan-lahan mulai menunjak. Tahun 1951 ia menjadi ketua Pemuda Rakyat yang sebelumnya dikenal sebagai organisasi pemuda sosialis Pesindo. Hingga akhirnya Francisca yang pernah menjadi wartawan Antara ini diangkat menjadi anggota DPR-GR sekaligus
merangkap anggota MPRS. Di DPR_GR, ia duduk di Komisi Luar Negeri. kehidupannyaberubah drastis tak lama sebelum terjadi tragedi 1965, ketika ia harus bertugas ke Aljazair dan Cile. Tak disangka, ia tak bisa pulang ke tanah airnya dan membuatnya merasa bersalah terhadap anak-anaknya.

Meski lama menjadi eksil, kecintaan Francisca terhadap Indonesia tak pernah luntur. Ia selalu mengikuti perkembangan politik tanah air Indonesia. Menurutnya, satu hal yang menjadi ciri watak revolusioner dan konsisten Francisca adalah menghadapi pukulan yang betapa pun besarnya
dari pihak kaum reaksioner dan penguasa, seperti ketika ia dijebloskan dalam penjara atas tuduhan terlibat dalam “Peristiwa Madium”, maupun ketika paspornya dicabut oleh rezim Orde Baru, sehingga menjadikannya orang yang tidak bisa pulang, Francisca tetap teguh dalam pendirian
politiknya maupun dalam kegiatan aktual dalam aksi-aksi maupun kegiatan lainnya demi cita-cita mulia yang dianutnya. Francisca memiliki semangat optimisme revolusioner dan pantang mundur.